Aku mengingatmu sebagai pangeran tak bermahkota yang sedang bingung memilih sang putri, Sedang aku.. aku hanyalah seorang upik abu yang kebetulan pangeran sangat ingin menjadi sahabatnya. Dan aku diwajibkan mendengar keluh kesahmu,
Tapi aku senang karena kau selalu menyanyi untukku, apapun. Tak pernah mengeluhkan aku, aku minta antar ke pasar, menimbakan air, segalanya.
Upik abu tetaplah upik abu… kau menjadi raja, dan aku takkan pernah menjadi ratu, aku sadar aku tidak diciptakan untuk menjadi takdirmu. Pedih kala akhirnya aku menyadari ada setitik cahaya cinta dalam hatiku, terluka kala cahaya itu semakin tumbuh besar.
Upik abu tetaplah upik abu, aku tetap diwajibkan mendengar keluh kesahmu. Lalu aku pergi, kenangan akan menjadi terasa lebih indah kupikir. Bukannya aku menyerah, karena aku tak pernah berusaha.
Upik abu tetaplah upik abu, kau menjadi raja… tapi mana ratumu?
Meskipun kau dan aku adalah kenangan, tapi kau adalah rajaku, aku ingin tahu siapa yang akhirnya kau pilih jadi ratumu. Kenapa kau selalu sendirian?
Kabarnya kau mencari upik abu untuk menjadi ratumu…
Apakah aku upik abumu itu? Andai saja….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar